Ayo Waralaba Ayo Waralaba Ayo Waralaba

Detail Berita / Artikel

Revisi Kembali Aturan Kepemilikan Gerai Waralaba

Administrator Ekonomi Dilihat 911 kali

Akhir-akhir ini masyarakat tengah dihebohkan dengan adanya tindakan dari Kementrian Perdagangan yang mulai mengkaji kembali mengenai berbagai macam bentuk aturan dari bisnis waralaba yang terdapat di Indonesia, terutama berkaitan dengan aturan kepemilikan gerai waralaba tersebut. Bisnis waralaba yang tengah dikaji ini, dikhususkan untuk jenis waralaba dari jenis makanan dan juga minuman, yang memang pada saat ini tengah menjadi perbincangan banyak orang karena semakin menjamurnya bisnis tersebut di wilayah Indonesia.

M. Lutfi yaitu seorang Menteri Perdagangan dari Indonesia mengatakan bahwa pemerintah saat ini hendak meredefinisikan kembali apa yang dimaksud dengan pengertian dari bisnis waralaba tersebut, sehingga pemerintah dapat memberikan pemberlakuan atas pembatasan dari pengertian atau pun definisi dari kata dan juga maksud dalam kata tersebut. Seperti halnya yang sudah diketahui secara umum bahwa pemilik waralaba atau lebih dikenal sebagai master franchise atau pun penerima dari waralaba itu pada dasarnya hanya diperbolehkan untuk membuka dan juga mendirikan gerai dari kafe atau restoran dengan jumlah maksimal sebanyak 250 gerai saja.

Kemudian beliau juga menjelaskan, bahwa terdapat beberapa bentuk perbedaan antara bisnis waralaba yang terdapat di wilayah Indonesia dengan bisnis waralaba yang terdapat di luar negeri. Perbedaan tersebut muncul dari kepemilikan gerai waralaba, yang apabila di negara Indonesia sekitar 70% gerai tersebut dimiliki oleh seorang master franchise sedangkan untuk wilayah luar negeri, mereka justru lebih banyak jenis bisnis waralaba atau sekiatr 70% yang memang dimilikinya oleh seorang franchisor atau dikenal sebagai bisnis waralaba perseorangan.

Dengan melakukan revisi ulang terhadap aturan kepemilikan gerai waralaba  tersebut pemerintah berharap bahwa enterpreneurship atau pun wirausahawan muda terurama dari kalangan masyarakat Indonesia dapat mengalami perkembangan yang sigfinifikan. Karena pada dasarnya tidak ada pembatasan sama sekali terhadap jumlah gerai yang sama, dengan nama merek dari jenis bisnis waralaba tersebut. Namun disisi lain pemerintah juga berharap bahwa dengan merevisi ulang aturan akan bisnis waralaba ini, dapat membuat para master franchisor semakin terbuka, sehingga mau membantu mengembangkan kemitraan dengan para wirausahawan dari dalam negeri, dengan membantunya mengembangakan usaha yang sama, dan tidak hanya membuka gerai-gerai baru saja atas nama mereka masing-masing.

Dengan kata lain, beliau menuturkan bahwa idealnya jenis bisnis atau usaha yang satu ini dapat memberikan nilai intensif, sehingga mereka atau para master franchisor tersebut mau untuk memberikan atau menjual waralabanya kepada para enterpreneur atau wirausahawan muda yang mau maju dan juga berkembang. Sehingga dapat memberikan nilai tambah untuk pengusaha dalam negeri atau lebih tepatnya masyarakat Indonesia itu sendiri.

Selain itu, menurut beliau hal ini juga bertujuan untuk merubah iklim perdagangan yang ada di Indonesia untuk kembali dikuasai oleh masyarakatnya. Hal ini dikarenakan fakta yang menyatakan bahwa iklim perdagangan di Indonesia justru lebih banyak dikuasai oleh pihak asing, sehingga banyak keuntungan yang seharusnya diterima oleh warga justru lebih banyak mengalir ke luar.

Sedangkan ketika fokus beralih menuju jumlah gerai yang ditanyakan oleh masyarakat untuk melakukan bisnis waralaba yang satu ini. Lutfi sebagai Menteri Perdagangan justru belum bisa menjawabnya secara tegas, tetapi beliau tetap menyatakan bahwa pemerintah  saat ini akan kembali merevisi mengenai jenis bisnis waralaba tersebut terutama dalam hal aturan kepemilikan gerai waralaba   yang selalu menjadi fokus untuk pertanyaan dari masyarakat, utamanya para pebisnis Indonesia.

Bisnis, Bisnis 2015, Bisnis Indonesia, Daftar Waralaba, Franchise Makanan, Indonesia Waralaba, Makanan Lokal, Peluang Bisnis, Pengertian Waralaba, Ukm Bisnis, Usaha Makanan,

Member Banner

Google Analytics Alternative